Bolu Kembojo
Bolu Kemojo adalah kue tradisional khas masyarakat Melayu yang berasal dari Riau dan Kepulauan Riau. Kue ini dikenal dengan bentuknya yang menyerupai bunga kamboja serta warna hijau khas dari daun pandan. Teksturnya padat namun lembut dengan rasa manis yang tidak berlebihan dan aroma pandan yang harum. Bolu Kemojo biasanya disajikan pada acara adat, hari besar keagamaan, serta sebagai hidangan untuk menjamu tamu.
Bolu Kemojo memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat Melayu. Kue ini telah dikenal sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi kuliner yang sarat makna. Nama “kemojo” atau “kemboja” diyakini berasal dari bentuk cetakannya yang menyerupai bunga kamboja, bunga yang sering dikaitkan dengan keindahan, kesucian, dan ketenangan. Bentuk tersebut menjadi ciri khas yang membedakan Bolu Kemojo dari kue-kue tradisional lainnya.
Dalam proses pembuatannya, Bolu Kemojo menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti telur, gula, santan kelapa, tepung, dan daun pandan. Kesederhanaan bahan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Melayu dalam memanfaatkan alam secara bijak. Meski bahannya sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Adonan harus diaduk dengan rata, takaran bahan harus tepat, dan proses pemanggangan harus diawasi agar kue matang sempurna tanpa gosong. Karena itulah, Bolu Kemojo sering dimaknai sebagai simbol ketekunan dan keuletan.
Secara tradisional, Bolu Kemojo banyak dibuat oleh para perempuan Melayu di dapur rumah. Resepnya diwariskan dari ibu kepada anak perempuan sebagai bagian dari pendidikan keluarga. Aktivitas memasak Bolu Kemojo tidak hanya bertujuan menghasilkan makanan, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai budaya, seperti kesabaran, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab. Proses memasak sering dilakukan bersama-sama, sehingga menciptakan suasana hangat dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Dalam kehidupan sosial, Bolu Kemojo hampir selalu hadir pada berbagai acara penting. Kue ini disajikan saat perayaan hari raya Idulfitri dan Iduladha, kenduri, pernikahan, khitanan, serta acara adat lainnya. Kehadiran Bolu Kemojo pada momen-momen tersebut melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan harapan akan keberkahan. Menyuguhkan Bolu Kemojo kepada tamu juga merupakan bentuk penghormatan, karena kue ini dianggap istimewa dan tidak dibuat secara sembarangan.
Seiring perkembangan zaman, Bolu Kemojo mengalami berbagai inovasi tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. Selain rasa pandan, kini muncul variasi rasa seperti durian, cokelat, dan keju untuk menyesuaikan selera generasi muda. Kue ini juga mulai diproduksi secara komersial dan dijadikan oleh-oleh khas daerah. Meski demikian, bentuk bunga dan tekstur khasnya tetap dipertahankan sebagai identitas utama.
Bolu Kemojo Melayu pada akhirnya bukan sekadar kue tradisional. Ia adalah warisan budaya yang menyimpan cerita tentang kehidupan, tradisi, dan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu. Dengan terus melestarikan dan memperkenalkan Bolu Kemojo, generasi masa kini turut menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan dikenal sepanjang masa.