Museum Sultan Syarif Kasim terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Damon, Kecamatan Bengkalis. Museum ini mulai dibangun pada tahun anggaran 1977/1978 dan diresmikan oleh Gubernur Riau pada Maret 1996.

 

Sejarah Bangunan

Bangunan museum ini dulunya merupakan tempat peristirahatan para Sultan Kerajaan Siak ketika melakukan peninjauan wilayah sekitar Bengkalis. Rumah singgah ini didirikan oleh Sultan Siak XI, Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, dan selalu digunakan oleh para sultan Siak Sri Indrapura. Di masa lalu, terdapat pelabuhan di belakang bangunan yang menghubungkan Bengkalis dengan Siak.

Arsitektur awalnya mengikuti ciri khas rumah Melayu dengan tujuh anak tangga. Bangunan ini telah direnovasi dua kali, yakni pada 1983 dan akhir 1988, yang kemudian menjadi cikal bakal Museum Negeri Bengkalis.

Catatan sejarah mencatat bahwa rumah ini pernah ditempati Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim, saat berkunjung ke rumah pamannya, Tengku Bagus di Damon. Jarak antara kedua tempat sekitar 700 meter, dan pada kunjungan tersebut karpet merah dibentangkan sepanjang jalan.

 

Peran Sultan dalam Kemerdekaan Indonesia

Tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Sultan Syarif Kasim menyatakan Kesultanan Siak bergabung dengan Indonesia. Beliau menyumbangkan kekayaan senilai 13 juta gulden kepada pemerintah republik dan bersama Sultan Serdang berupaya meyakinkan raja-raja lain di Sumatera Timur untuk mendukung republik. Jasanya diabadikan dalam nama Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim di Pekanbaru.

 

Koleksi Museum

Museum ini menyimpan berbagai koleksi berharga seperti simbol-simbol kerajaan, pakaian kerajaan, foto-foto keluarga kerajaan, perhiasan permaisuri, mata uang, keramik, dan alat kesenian. Beberapa koleksi istimewa antara lain:

  • Kursi Emas Kerajaan: Kursi ini memiliki ukiran indah dari kuningan berlapis emas. Sempat hilang namun berhasil ditemukan kembali dan dikonfirmasi keasliannya oleh Museum Nasional Jakarta.
  • Mahkota Kerajaan: Digunakan pada masa Sultan Siak X atau Syarif Kasim I, mahkota ini terlapisi emas dan permata. Replika aslinya tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
  • Meriam: Koleksi 11 meriam dengan berbagai ukuran dan kaliber yang dulu digunakan sebagai senjata kesultanan, termasuk untuk melawan penjajah. Beberapa dipajang di luar ruangan dan dapat dilihat dari jarak dekat oleh pengunjung.

Museum ini menjadi destinasi wisata edukatif yang berharga untuk mengenal sejarah Kesultanan Siak dan peran pentingnya dalam perjalanan bangsa Indonesia.